Webmaster SEO Tools

Free xml sitemap generator

Laman

Menikmati Warna-warni Terumbu Karang di Lucipara, Maluku


Awas ''Black Hole'' dan ''Kolam Raksasa'' di Tengah Laut Dalam

Nusantara adalah wilayah kepulauan. Ribuan pulau yang terbentang sebagaimana layaknya zamrud khatulistiwa menyajikan pesona wisata laut dan pantai. Salah satu di antaranya adalah kawasan Lucipara di Laut Banda, Provinsi Maluku.

Perjalanan laut dari Pelabuhan Ambon ke kawasan Lucipara membutuhkan waktu lima jam. Perjalanan panjang itu langsung terbayar oleh pesona pantai yang memiliki topografi unik. Yaitu, datar sejak tengah pulau dan tiba-tiba menurun layaknya tebing tepat di garis pantai.

Lautnya yang jernih langsung menampakkan warna-warni terumbu karang di dasarnya. Satu pesona yang mungkin tidak ditemukan di perairan lain di Nusantara adalah adanya daerah gelap di perairan tersebut sebagaimana layaknya lubang hitam raksasa. Kegelapan di antara warna-warni terumbu karang itu disebabkan bagian tersebut memiliki dasar yang sangat dalam.

Ada empat pulau di kawasan Lucipara, yang semuanya berpantai pasir putih. Masing-masing terhubung oleh laut dangkal. Tidak jauh dari empat pulau tak berpenghuni tersebut, ada gosong karang dangkal yang dalam bahasa lokal disebut sa'aru. Luasnya belasan kilometer persegi.

Diduga, gosong itu adalah kawah gunung laut yang puncaknya menyembul ke permukaan. Bentuknya mirip pulau tenggelam atau kolam di tengah lautan luas. Kedalamannya tidak lebih dari dua meter, namun dikelilingi palung laut dengan kedalaman ribuan kilometer.

Kondisi seperti itu adalah tantangan sekaligus pesona luar biasa bagi para diver (penyelam). Heru Suryoko, seorang penyelam profesional dari Forum Selam Komunitas Jakarta, menyebut Lucipara sekelas Bunaken di Manado.

Kejernihan airnya menyebabkan jarak pandang di dalamnya mencapai 30 meter. Keunggulannya, airnya lebih bening. Kejernihan seperti itu merupakan kriteria utama dalam dunia fotografi bawah laut.

Salah satu pulau di kawasan Lucipala adalah Laponda. Saat air laut surut, warga sekitarnya berebut mencari kerang dan siput di pantai pulau tersebut. Budaya itu dikenal sebagai Bameti.

Yang paling banyak dicari adalah bia garu atau kima. Bahasa latinnya adalah tridacna squamosa, yaitu sejenis kerang-kerangan atau siput yang bisa mencapai ukuran lebih besar daripada bola kaki jika telah berusia dewasa.

Karena cangkangnya keras dan tertutup rapat, tidak ada jalan untuk mengeluarkan isi kerang-kerangan tersebut. Karena itu, untuk mengeluarkannya, orang-orang pun membentur-benturkan sesama hewan itu berkali-kali hingga hancur berantakan. ''Ini katanya obat kuat, saya tidak tahu juga, tetapi lumayan untuk oleh-oleh,'' ujar seorang warga.

Lucipara tidak lepas dari sejarah kolonialisme yang pernah mencengkeram Nusantara. Sejarah itu berawal dari perang antara armada laut Portugis pimpinan Alfonso de Al'burqurque dan pasukan Malaka pada 1512.

Kerajaan Islam Nusantara yang dibantu para pedagang Makassar tersebut jatuh. Mereka yang sebagian besar pelaut ulung itu pun tertawan.

Oleh pasukan Portugis, mereka dijadikan penunjuk jalan menuju pusat rempah-rempah, buah pala, di Kepulauan Banda. Setelah berhasil mencapai Banda, dalam pelayarannya kembali ke Eropa, salah satu kapal yang dinakhodai Fransisco Serrao kandas di atas karang di salah satu pulau di Lucipara.

Cerita tentang Banda yang dikenal sebagai pusat rempah-rempah tersebut meyebar ke Eropa lewat dua kapal lain yang berhasil lolos. Sejak itu, para armada laut Eropa pun berdatangan ke Banda.

Dari Banda, mereka terus bergerak maju ke Ternate yang merupakan bandar cengkih pulau-pulau di sekitarnya. Dari sinilah dimulai kisah panjang penuh heroisme pertarungan anak negeri Maluku maupun Nusantara melawan kolonialisme.

0 komentar:

Posting Komentar

jangan lupa untuk di praktekkan ya sobat squad1 and happy blogging :)